Ads (728x90)

>





LAIS Muba Kabarakyatsumsel.com - Berbagai upaya terus digencarkan Bupati Muba Dodi Reza untuk menekan angka kemiskinan di Muba. Salah satu program yang dinilai sukses menekan angka kemiskinan di Bumi Serasan Sekate yakni inovasi pengolahan pakan ternak dan program replanting atau peremajaan perkebunan sawit yang di inisiasi Bupati Muba Dodi Reza sejak dua tahun belakangan. 

Bupati Musi Banyuasin Dr H Dodi Reza Alex melalui Sekretaris Daerah Kabupaten Muba, Drs H Apriyadi MSi menilai bahwa Program Inovasi Pakan Ternak murah dan berkualitas diyakini bisa menjadi salah satu faktor terjadinya penurunan angka kemiskinan yang cukup signifikan di Kecamatan Lais.

"Menurut data dari Badan Pusat Statistik, bahwa angka kemiskinan masih cukup tinggi di Kabupaten Muba berada di Kecamatan Lais. Oleh karena itu hal terpenting tugas kita bagaimana melakukan percepatan pengurangan angka kemiskinan,"ujar Sekda saat membuka Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) Kecamatan Lais tahun 2021 di Aula Kantor Kecamatan Lais, Senin (17/2/2020).

Menurut Apriyadi, di Muba mata pencarian warga Muba didominasi oleh petani dan peternak, oleh sebab itu apa yang sudah di inisiasi Bupati Muba Dodi Reza sangat efektif menekan angka kemiskinan di Muba. 

Dikatakan Apriyadi, bahwa dengan dilaksanakan pemberdayaan masyarakat berupa inovasi pakan ternak murah dan berkualitas, sesuai dengan rata-rata mata pencarian masyarakat di Kecamatan Lais yaitu di sektor perikanan dan pertanian.

"Di kecamatan Lais ini ada kurang lebih Sembilan Desa yang dialiri Sungai Musi dan Sungai Batanghari Leko, maka potensi perikanan harus dimanfaatkan secara maksimal. Kemudian bantuan di sektor pertanian, pendidikan dan kesehatan juga akan menyasar pada masyarakat miskin yang ada disni,"ucap Apriyadi.

Apriyadi juga memaparkan kaitan dengan Musrenbang RKPD 2021, Pemkab Muba akan fokus pada program pemberdayaan  dan pembangunan konektifitas guna percepatan pengurangan kemiskinan.

"Jadi tidak usah terlalu banyak usulan dan program kecil-kecil yang nantinya tidak terpenuhi oleh kabupaten. Dengan dana desa silahkan untuk memenuhi fasilitas dan kebutuhan di desa. Nah untuk APBD kita akan fokus bangun jalan konektifitas, misal sepetti di Lais sepanjang jalan Simpang Gardu dan Jalan simpang Petaling. Karena kalau jalan konektifitas bagus, transportasi lancar, maka bisa meningkatkan perekonomian,"paparnya.

Sementara itu Camat Lais, Deni Sukmana mengungkapkan bahwa upaya pemerintah kecamatan Lais dalam Musrenbang RKPD ini fokus pada pengurangan angka kemiskinan. Hal pertama yang dilakukan ialah mendata masyarakat yang tergolong miskin di Kecamatan Lais. Kemudian mencarikan solusi untuk meningkatkan pendapatan masyarakat, dilihat disini pada sektor pertanian, perikanan dan juga perkebunan.  

"Misalkan seperti sektor perkebunan sawit rakyat membutuhkan program replanting/ peremajaan sawit rakyat maka kita masukan PSR. Kemudian sektor perikanan mereka butuh pakan ternak, nah kita siapkan inovasi pakan ternak murah dan berkualitas. Selain itu kita juga membentuk kelompok pemberdayaan di setiap dusun untuk menyiapkan alat pembuatan pakan ternak dari limbah sawit tersebut,"jelasnya.

Sebelumnya, inovasi pakan ternak yang dinamai Mososa yang sudah diterapkan sejak lama di bumi Serasan Sekate tersebut memberikan dampak yang positif bagi petani dan peternak di Muba. Tak tanggung-tanggung Teknologi Mososa ini membuat petani dan peternak di Muba bisa hemat hingga 60 persen dan meraup untung mencapai Rp6 juta perbulan.

"Bahannya mudah didapat, kami petani bisa hemat banyak untuk biaya pupuk," ungkap Hary Agus Wibowo selaku pemilik hak paten Teknologi Mososa.

Ia mengaku dirinya bersama petani dan peternak di Lais merasa sangat diringankan dengan inovasi telnologi Mososa. "Jadi kami tidak terlalu bergantung lagi dengan pupuk bersubsidi," bebernya.

Ia mengatakan, pemanfaatan teknologi Mososa untuk kebutuhan petani di Kabupaten Musi Banyuasin terus ditingkatkan.

Teknologi berbasis limbah (solid sawit/limbah decanter) sebagai bahan dasar pembuatan pakan ternak & pupuk organik ini sangat ekonomis karena menjadi murah 60 persen dibawah harga standar dan kualitas SNI.

Ia menjelaskan, semua bahan ini diperoleh dengan membeli di masyarakat.​ Diperkirakan per hektar masyarakat dapat untung minimal Rp4-6 juta per bulan. "Dengan demikian, semua harga ternak atau ikan akan turun tetapi peternak tidak dirugikan," urainya.(Redi)

Posting Komentar