BANYUASIN, KabaRakyatsumsel.com-- Untuk meningkatkan cakupan akses sanitasi, Kementerian PUPR mendorong kolaborasi pendaaan non-APBN yang prioritas penanganannya dilakukan pada daerah yang masih belum memiliki sanitasi yang layak. 

Dimana pada tahun 2019 Kementerian PUPR bekerjasama dengan Islamic Development Bank (IDB) atau Bank Pembangunan Islam untuk membangun Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang dilengkapi sistem perpipaan senilai Rp 425 juta yang berlokasi di RT 11 dan RT 12 dusun III Desa Lubuk Lancang Kecamatan Suak Tapeh Kabupaten Banyuasin.

"IPAL tersebut kini hampir selesai dan semoga nanti dapat dimanfaatkan sebagai tempat penampungan dan pengolahan limbah komunal bagi 55 Sambungan Rumah (SR). Lokasi tersebut menjadi salah satu pusat konsentrasi permukiman penduduk di Desa Lubuk Lancang sangat memerlukan fasilitas Pengolahan Limbah agar kondisi kesehatan lingkungan dapat terjaga.," kata Kades Lubuk Lancang Rusdi Tamrin, Jum'at (01/11). 

Menurut Kades Tamrin dalam pembangunan IPAL tersebut Kementerian PUPR melalui Satuan Kerja Pengembangan Sistem Penyehatan Lingkungan Permukiman Provinsi Sumatera Selatan, Ditjen Cipta Karya melibatkan Pemerintah Daerah dan masyarakat setempat yang tergabung dalam Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Desa Lubuk Lancang.

"Dengan melibatkan masyarakat sejak tahapan perencanaan, msayarakat dapat menggunakan dan memelihara IPAL yang sudah dibangun sehingga mampu mengubah perilaku hidup masyarakat yang tadinya membuang sampah tidak pada tempatnya dan Buang Air Besar Sembarangan (BABS). Dengan demikian berkontribusi dalam penyehatan lingkungan sekitar dan mengurangi tingkat kekumuhan," ujar dia.

Menurut Kades Tamrin, sebelum adanya IPAL, lingkungan tempat tinggal di RT 11 dan RT 12 sangat kumuh dan bau. Hal ini disebabkan sampah yang dibuang sembarangan dan pembuangan air limbah dan septic tank langsung ke drainase yang ada di lingkungan warga. 

"Sekarang  sudah ada IPAL yang mana penampungannya dengan ukuran 2, 5 Meter Persegi dengan kedalaman 3 Meter. IPAL Komunal Solusi Sanitasi yang Bersih dan Layak. Saya harap masyarakat daapt merawat dan menjaganya dengan baik," ungkap dia.

Sementara Samir Ketua KSM Desa Lubuk Lancang menambahkan bangunan IPAL tersebut nantinya akan dicat dengan gambar warna-warni juga dimanfaatkan sebagai tempat bermain anak-anak dan tempat aktivitas warga. BKM Lubuk Lancang juga akan melakukan pengecekan secara berkala sehingga IPAL tetap berfungsi optimal.

IPAL ini dulunya kata dia, tempat pembuangan air dari rumah masyarakat setempat. Kini
menjadi IPAL. Semoga nantinya warga menjadi lebih sadar lingkungan dengan membuang sampah ke penampungan terdekat. Jadi manfaatnya berlipat yang kami terima.

"Harapan kita nanti masyarakat sudah tidak lagi buang sampah dan buang limbah sembarangan lagi, dan lingkungan kami menjadi lebih bersih, sehat dan tidak kumuh,"jelas dia.

Ditempat terpisah Camat Suak Tapeh Sashadiman Ralibi, S.Ag., M.Si mengatakan kalau dirinya bersama masyarakat akan terus terlibat aktif dalam mendukung Program Sanitasi Berbasis Masyarakat, dengan pembangunan IPAL Komunal di daerahnya masing-masing, sehingga target 100% sanitasi di tahun 2019 mendatang, dapat kita wujudkan.

"Sanitasi merupakan hal yang sangat penting sebagai salah satu syarat menjadi desa yang bersih dan baik karena itu mari kita bersama-sama, saling bekerja sama untuk urusan sanitasi ini, agar perilaku hidup sehat di tengah masyarakat dapat terwujud," ucapnya.

Melalui program Sanimas ini jelas Camat Sashadiman Ralibi, masyarakat memilih sendiri sarana dan prasarana air limbah permukiman dengan membentuk Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) yang aktif menyusun perencanaan, pelaksanaan, serta operasi dan pemeliharaannya.

"Salah satu tujuan program Sanimas yaitu memenuhi target akses universal 100-0-100 pada Tahun 2019 dimana salah satunya yaitu 100% masyarakat mempunyai akses sanitasi yang layak, karena itu melalui sosialisasi ini, masyarakat dapat memahami pencapaian target yang harus kita penuhi bersama nantinya," tutupnya. (Suharni).

Post a Comment