BANYUASIN, KabaRakyatsumsel.com-- Hadirnya perusahaan disuatu daerah atau dilingkungan masyarakat tentu diharapakan dapat mensejahterakan serta peduli dengan keadaan lingkungan disekitar.

Hal tersebut mulai dari meberdayakan warga desa setempat, CSR rutin dibagikan juga yang tak kalah penting pengelolaan limbah dengan baik agar tidak berdampak buruk bagi lingkungan setempat.

Namun semua itu belum dirasakan oleh masyarakat dusun IV dan V Desa Karang Anyar Kecamatan Sumber Marga Telang, Kabupaten Banyuasin. Pasalnya mereka mengeluhkan air sungai beraroma tidak sedap dan gatal - gatal ketika digunakan yang diduga akibat limbah pabrik PT Bintang Agung Persada (BAP)

"Hampir dua tahun sudah air sungai berbauk tak sedap dan menimbulkan epek gatal ketika digunakan," kata Winarti (45) warga lingkungan V Desa Karang Anyar ketika di bincangi media ini, Minggu (19/05).

Dugaan kami jelas dia, ini berasal dari pabrik karet PT. Bintang Agung Persada (BAP). Kenapa kami bilang demikian, karena sebelum ada PT BAP tersebut, air sungai dilingkungan empat dan lima Desa Karang Agung ini tidak ada masalah.

"Nah sejak beroperasinya PT. BAP hampir dua tahun ini terasa sekali mulai dari hal kecil seperti udara disekitar sini tidak sedap hingga air berubah warna hitam dan berbauk busuk," keluhnya.

Kondisi ini tambahnya, memaksa warga harus membuat kolam didekat rumah untuk memenuhi kebutuhan mandi, mencuci dan kakus. "Kami berharap perusahaan ada kepedulian terhadap lingkungan, jangan tutup mata atas penderitaan warga yang terkena dampak pembuangan limbah yang dihasilkan dari pengolahan karet," harapanya.

Keluhan lainnya juga disampaikan Leman (37) juga warga setempat mengungkapkan bahwa dua tahun ini warga menahan diri tidak mengeluh walaupun udara tidak sedap, air sungai berubah warna hitam berbauk gatal ketika digunakan, karena berharap perusahaan akan ada kepedulian tapi ternyata memang kesanya tutup mata.

"Dua tahun kami rasa sudah cukup menahan diri, sudah saatnya warga bersuara, kalau mau di ceritakan banyak hal yang jadi keluhan, pertama, kalau perusahaan itu ada yang namanya dana CSR tidak pernah dirasakan bentuk kepedulian perusahaan untuk masyarakat," tutur dia.

Hal lain yang menurutnya juga penting terkait kesejateraan warga setempat perusahan tidak memberdayakan masyarakat supaya dapat ikut bekerja didalam perusahaan, malah info yang sampai kewarga PT. BAP lebih banyak menerima warga luar sangat - sangat sedikit sekali warga Desa Setempat.

"Ya semoga saja perusahaan PT. BAP bisa mendengar keluhan kami orang bodoh ini, juga kepada pemerintah memohon ada langkah tegas mencarikan solusi dari persoalan yang menurut kami sangat mendesak jika tidak segera diambil sikap terutama soal limbah akan berdampak jangka panjang terhadap ekositem alam dan anak cucu kami kena imbas tidak lagi menikmati lingkungan dan alam yang sehat," ujar dia.

Guna menyajikan keberimbangan berita ini, media ini mencoba mengonfirmasi pihak perusahaan, didapatlah nomor hanpone Wakil Management pak Harisman. Namun sayangnya setelah tiga kali ditelpon dalam keadaan terhubung namun tidak diangkat.

Berusaha agar tetap berimbang, kembali mencoba komunikasi melalui pesan singkat SMS dan Whatsapp belum juga ada balasan hingga berita ini diterbitkan. (Adm)

Post a Comment