Prabumulih, KabaRakyatsumsel.com-Buntut dari kisruh tender Proyek Jalan  yang dilakukan LPSE Prabumulih, yang mana CV Malindo Perkasa dinyatakan kalah. Lantas tak lama usai Sastra Amiadi, Wakil Direktur CV Malindo Perkasa menggelar konfres disalah satu media online lokal Prabumulih, muncul isu bahwa pihaknya mendapat kompensasi atau diganti dengan proyek jalan setapak. Namun hal ini dibantah keras olehnya saat ditemui, Jumat (24/5).

"Tak benar adanya isu itu.Bahkan saya baru pulang dari luat kota dan mendengar informasi yang mengatakan saya mendapatkan kompensasi karena kalah tender jalan Seminung dan diganti dengan paket jalan setapak," ungkapnya mengawali pembicaraan.

Dirinya mengatakan bahwa sampai berita ini diturunkan masih tetap akan menggugat hasil keputusan bahwa perusahaannya kalah dalam proses tender jalan Seminung. "Padahal janji Ridho Yahya-Wako Prabumulih, mengatakan proses tender di APBD 2019 lingkup Pemkot Prabumulih terbuka bebas tanpa ada intervensi.Namun hal itu tak sesuai kenyataan lapangan," lanjutnya.

Dilansir dari Posmetro.co.id, keadiannya bermula ketika pada tender proyek dengan kode 19343830 pekerjaan rehab Jalan Seminung Kelurahan Muara Dua Unit Kerja Dinas Pekerjaan Umum Dan Penataan Ruang Kota Prabumulih diduga Pokja lelang paket terindikasi KKN. Di layar LPSE tercatat ada tiga perusahaan yang bersaing merebut proyek tersebut. Dimana CV Malindo Perkasa tercatat sebagai Perusahaan penawar terendah dengan tawaran Rp. 329.464.031,60 dari nilai pagu paket Rp.372.000.000,00.


Dibawahnya ada dua perusahaan rekanan dimana CV Anugrah Prima melakukan penawaran sebesar Rp. 360.097.923,45 dan CV Wijaya Perkasa dengan tawaran Rp.364.244.821,81 dari nilai pagu paket Rp.372.000.000,00.  Hanya saja Pokja menetapkan CV Anugrah Prima sebagai pemenang tender.

Berdasarkan hasil evaluasi, Pokja menyebutkan bahwa CV  Malindo Perkasa tidak menyertakan Surat pernyataan. Kemudian, tanggal pembuatan Dukungan Bank tidak sesuai dengan jadwal tender. Selain itu, dukungan Bank tidak ditujukan pada Pokja yang melakukan tender.

"Saya mendapat pemberitahuan kalah tender ini melalui internet, padahal kita ingin jawaban resmi tertulis secara jelas mengapa bisa kalah atau dikalahkan, padahal kita menawar paling rendah dari peserta tender lainnya dan berkas penawaran lengkap," terang pria ini. Bahkan ia akan menuntu uji forensik dan pembuktian terbalik.

Ia menduga kuatnya adanya aroma permainan dan upaya tidak tranparan."Ini namonyo lagu baru kaset lamo," jelasnya. Sastra juga menyatakan dirinya mendapatkan ketegasan dari Ketua Gapensi Prabumulih yang menyatakan bahwa proses tender 2019 terbuka dan bebas.Namun kata Sastra itu cuma isapan jempol belaka.

"Yang jelas kita akan tetap menggugat hingga ke KPPU," tandasnya.(bmg)

Post a Comment