KAYUAGUNG- OKI, KabaRakyatsumsel.com- Sekolah Menengah Atas (SMA) Yayasan Pendidikan Bhakti Ibu (YPBI) 4 Kayuagung Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), terancam tutup. Lantaran, minimnya siswa yang hendak mencari ilmu di sekolah swasta tersebut.

Pantauan di lapangan, ruang kelas di SMA tersebut berjumlah 15 lokal dan masih tampak bagus dan masih layak huni. Namun, karena tidak terawat kondisi sekolah tersebut tampak usang, apalagi rumput dan pohon di halaman sekolah sudah tampak menguning karena musim kemarau.

Kekosongan siswa inilah membuat yayasan ini terancam putus, padahal jelas dan guru pengajar selalu ada dan menunggu kehadiran siswa masuk. Bukannya siswa menunggu guru, kini guru mengajar menunggu anak didik di ruang kelas.
Untuk tenaga guru sehari-hari ada 10 guru dan satu diantaranya Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Sedangkan siswa hanya ada 4 orang siswa yang belajar di yayasan tadi.
Kepala SMA YPBI 4 Kayuagung, Drs Bakri mengatakan, sejak 2014 jumlah siswa terus berkurang. "Kalau tahun 2017 ada 11 orang dan sekarang tinggal empat orang,” kata Bakri, Jumat (10/8) seraya berharap dengan dipublikasikan ini, agar jangan sampai ada anak didik yang putus sekolah dan pihak yayasan siap menampung para pelajar yang benar mau belajar.
Ditambahkannya, empat siswa kelas XII satu asal Ulak Jermun, satu siswa asal Arisan Buntal dan dua siswa asal Kayuagung. Sedikitnya siswa membuat proses belajar mengajar terganggu karena setiap hari guru yang menunggu siswa. "Saat ini tersisa 10 guru satu orang diantaranya berstatus pegawai negeri," tutur Bakri.

Dijelaskan Bakri, ada beberapa faktor yang menyebabkan sekolah tersebut kalah bersaing dengan sekolah negeri lainnya. Karena banyak sekolah negeri apalagi saat ini sudah ada SMK Negeri di setiap kecamatan, sehingga banyak siswa yang memilih sekolah di tempat lain padahal belajar itu sama saja asalkan keseriusan siswanya untuk menuntut ilmu.
“Kalau fasilitas cukup, seperti ruang komputer, drumband, lapangan basket, volley dan lainnya. Kondisi ini sudah diketahui pihak yayasan dan Diknas Sumsel, mungkin tahun depan tidak akan lagi beroperasi dan dikembalikan kepada yayasan apakah nanti akan dimanfaatkan untuk kegiatan lain atau tidak," imbuhnya.
"Menyusutnya murid sekolah ini terjadi sejak tahun 2014. Ada yang keluar tanpa pamit kesekolah, ada juga yang memang pindah," ujarnya.
Eka Dahlia, Alumni SMA YPBI 4 Kayuagung mengatakan, saat dia bersekolah disana tersisa hanya 11 siswa. Ia miris melihat kondisi sekolahnya saat ini yang tidak memiliki siswa.
"Sayang sekali sekolah kami, padahal lokasinya strategis dan sistem pembelajaran sama seperti sekolah lain dan untuk kemampuan berpikir juga sama bahkan saya dinyatakan lulus dengan nilai memuaskan.
Sementara itu, Ketua MKKS OKI, Asnawi saat dikonfirmasi mengaku, tidak bisa berkomentar. Karena keputusan sekolah tergantung pada pelajat itu sendiri mau sekolah dimana," tandasnya. (Sanfriawan)

Post a Comment