Muara Enim -KabaRakyatsumsel.com- Ribuan warga Tionghoa akan datang berziarah ke kuburan cina di jalan veteran kelurahan pasar 1 muara enim, saat perayaan tradisi Ceng Beng (sembahyang kubur) yang puncaknya jatuh pada tanggal 5 April mendatang. Ribuan warga Tionghoa itu tersebar di kota-kota besar di Indonesia maupun yang merantau ke luar negeri seperti Hongkong, Amerika Serikat, RRC dan negara lain. Mereka akan berziarah ke makam-makam leluhur mereka yang tersebar di kota-kota tersebut untuk perayaan ceng beng.

 Tradisi tahunan Ceng Beng sendiri merupakan wujud bhakti kepada leluhur maupun orang tua yang sudah tiada dan merupakan moment sakral bagi warga keturunan Tionghoa dimanapun mereka berada.

 "Itu belum di kota-kota lain seperti lahat,prabumulih dan palembang. Mereka biasanya datang rombongan. Satu keluarga kan biasanya bawa anak-anaknya juga," ungkap Yudianto Y saaf ditemui, Rabu (4/4) ‎Untuk ritual Ceng Beng sendiri pada saat ritual, masyarakat keturunan Tionghoa memanjatkan doa kepada leluhur yang meninggal agar mendapat tempat terbaik disisi Sang Pencipta.

 Perayaan Ceng Beng atau Qing Ming sendiri memiliki makna bersih dan terang, jatuh pada setiap tanggal 4 April. Pada saat puncak ritual Ceng Beng, mereka memanjatkan doa kepada leluhur yang meninggal agar mendapat tempat terbaik disisi Sang Pencipta. Warga Tionghoa Melakukan Sembahyang Kubur. Ritual biasanya dimulai sejak tanggal 2 - 5 April mulai pukul 02.30 WIB dini hari, para peziarah mulai berdatangan kemakam dengan membawa sesajian yang telah disiapkan dari rumah masing-masing diantaranya Sam-sang (tiga jenis daging), Sam kuo (tiga macam buah-buahan) dan Cai choi(makanan vegetarian), di makam leluhurnya masing-masing para peziarah melakukan ritual sembahyang, sebelumnya kubur diterangi oleh lilin, dibakar hio (garu), dan diletakan kim chin (uang palsu kertas) di atas tanah makam sembari memanjatkan doa agar arwah orang tua dan leluhur mereka tenang di alam baka dan meminta diberikan rezeki serta kedamaian.  ‎

Dapat dipastikan suasana kuburan yang biasanya sepi bakal ramai dipenuhi ribuan manusia untuk melakukan ziarah. Para peziarah sebelum puncak Ceng Beng biasanya memang sudah mulai berdatangan dari kota-kota besar di Indonesia maupun luar negeri untuk melakukan ritual tersebut.

 "Untuk Ceng Beng ini justru yang masih terjaga di Muara Enim karena di Tiongkok sudah ada pergeseran lantaran pengaruh lahan. Di sana sekarang pakai kremasi bukan dikubur lagi kecuali di desa-desa kecil atau di pelosok-pelosok," paparnya. ‎Lebih lanjut ia mengatakan, makna hakiki

 Ceng Beng sendiri adalah menghormati leluhur karena lantaran adanya para leuhur itulah kita saat ini ada didunia. Ritual Ceng Beng adalah suatu bhakti anak kepada orang tua. "Disamping itu momen silahturahmi antara keluarga, adik beradik kumpul bersama, bertemu tetangga dan teman-teman yang jarang bertemu," ujarnya. Berkaitan dengan ritual Ceng Beng sendiri, pada saat acara puncak Ceng Beng sesaji wajib yang disajikan ada tiga jenis yaitu ayam kampung, daging Babi dan ikan, tapi sekarang untuk ikan dirubah pakai tahu. Warga Tionghoa merayakan sembahyang kubur di Pekuburan Cina jalan veteran kelurahan pasar 1 muara enim. Selain itu sesaji lainnya adalah buah-buahan dan kue-kue rakyat berikut tiga cangkir teh. "Makanan kesukaaan almarhum semasa hidup juga disajikan. Misalnya ada kue kesukaan yang bersangkutan suka kwetiau atau Pempek, itu disajikan sebagai sesaji tambahan," jelas Yudianto Y. Intinya Ceng Beng ini untuk mendoakan agar arwah yang bersangkutan dapat ketenangan, yang masih hidup rejeki lancar, sehat walafiat.(tee/bmg)

Post a Comment