TANJUNG ENIM, KabaRakyatsumsel.com-Diduga ada pencemaran yang dilakukan oleh PT Bukit Asam, karena perubahan air sungai Kiahan yang berubah warna oleh kegiatan ekplorasi  kegiatan Tambang PT Bukit Asam dipenambangan Bangko Barat Tanjung Enim Kabupaten Muara Enim Sumatera selatan.

Pasalnya, Aliran Sungai Kiahan yang jernih,  kini berubah menjadi keruh, sedikit menghitam bercampur lumpur ikut megalir. Dan biasanya dimamfaatkan warga untuk beraktifitas kini sudah tidak bisa lagi.

Dari pantau media ini dilapangan, Rabu (28/2/2018), aliran sungai yang di selusuri dari jembatan Desa Lingga, ke RT 06, RT 14 Desa Tegal Rejo, dan juga ke fit I (satu) Bangko Barat.

Aliran sungai ini juga mengalir melewati aktivitas penambangan di Bangko Barat yang keluar dari pipa-pipa pembuangan hingga mengalir kesungai.

Salah satu warga RT 14 Desa Tegal Rejo yang sangat berdekatan sekali dengan penambangan Bangko Barat PT BA yang enggan namanya ditulis saat di bncangi GLOBALPLANET. news mengatakan, kalau kondisi air sungai saat hujan, kondisinya memang seperti ini, warnanya juga begitu.

“Kalau musim hujan bisa dilihat dengan mata. Beginilah kondisi air sungainya, bisa dinilai sendirilah,” kata dia.

Hal ini ditegaskan Kepala Desa Tegal Rejo (KADES), Tedi Harsoyo mengatakan, memang aliran sungai yang mengalir tersebut melalui juga wilayah Desa Tegal Rejo. Dan, kondisinya memang saat hujan kondisi sungai seperti itu.

Menurutnya perubahan warna air sungai Kiahan  Ini memang jelas dari limbah dari tambang, bisa dilihat saja warnanya,” terangnya.

Menurutnya," sungai itu dari dulu sudah ada dan juga pemukiman masyarakat sudah ada sejak dahulu dan kondisi air sungai tidak berwarna seperti itu. Aliran sungai ini bisa dibedakan, aliran sungai yang bercabang, ada yang mengalir dari pemukiman masyarakat dan juga dari daerah tambang Bangko Barat".

“Dari aliran sungai ini bisa dilihat perbedaannya, bisa lihat di dua aliran itu bedanya,” kataTedi.

Menyikapi adanya dugaan pencemaran lingkungan dari PT Bukit Asam, Wahana Lingkungan Hidup (WALHI ) Sumatera-Selatan menegaskan bahwa. pertambangan batubara PT Bukit Asam  tidak akan pernah lepas dari indikasi pencemaran, baik air, udara dan kerusakan lingkungan dan sosial bagi masyarakat sekitar.

Ditegaskan Direktur WALHI Sumsel Hadi Jatmiko bahwa menjadi penting bagi penegakan hukum yang dilakukan oleh aparat penegak hukum dan Kementerian terkait atas dugaan pencemaran yang dilakukan PT Bukit Asam dan memastikan pemulihan bagi lingkungan dan rakyat dilakukan karena hal itu jelas melanggar UU lingkungan hidup sebagai UU payung untuk melestarikan dan melindungi lingkungan hidup.

Menurutnya Pemerintah dalam hal ini kementerian Lingkungan hidup, perlu untuk melakukan audit lingkungan di wilayah pertambangan, tidak hanya pada perusahaan PTBA tetapi juga tambang tambang lainnya yg beroperasi di Provinsi  Sumatera Selatan.

Sementara itu, GM UPTE PT BA Suhedi saat dikonfirmasi melalui What Shapp (WA) mengatakan, kalau saat seperti musim hujan sehingga sumbernya cukup banyak. Namun, pihaknya akan mengecek kelapangan apakah benar atau tidak hal tersebut.

“Beberapa hari ini hujan cukup deras, sehingga sumbernya cukup banyak, nanti kita cek dari tambangnya apakah benar, tetapi sejauh ini kami sangat ketat dan taat dengan ketentuan dan setiap air yang dialirkan dari tambang harus memenuhi baku mutu lingkungan,” ujar Suhedi dengan tegas.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan ( DLHP) Drs H Edwad Candra MH saat di konfirmasi via selular mengatakan, untuk menindak lanjuti dugaan tersebut.

"Kami akan segera mengirim tim kelapangan.  Jika terbukti benar, ada mekanisme, prosedur sesuai dengan ketentuan, nanti kita lihat dulu, katakanlah investigasinya," tegasnya.

Post a Comment