BANYUASIN,KabaRakya--  Saat ini para petani kedelai terus mendesak PT. Sri Andalan Lestari (SAL) untuk bertanggung jawab, karena tanaman padi dan jagung mereka gagal panen diakibatkan di terjang banjir yang bersumber dari air tanggul PT. SAL yang berbatasan dengan Desa Tanjung Laut dengan Desa Lubuk Lancang Suak Tapeh.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Banyuasin, Syahril saat dimintai cinfirmasinya, Jum'at (23/02) menyebutkn bahwa pihaknya nanti akan mengundang semua pihak untuk rapat mediasi.
"Ya nanti Kami akan mengundang rapat mediasi semua pihak pada tanggal 1 Maret 2018," kata dia.

Kita berharap ujar Syahril, pihak dari PT. SAL harus bisa bertanggung jawab dan mengganti kerugian para petani tersebut. "Pihak PT SAL harus bertangung jawab dengan kewajibannya mengganti rugi petani yang sudah terkena dampak kegiatan mereka," tegas dia.

Sebelumnya telah diberitakan dimana Puluhan petani jagung dan padi asal Desa Lubuk Lancang Kecamatan Suak Tapeh dan Desa Banjar Sari Kecamatan Pulau Rimau gigit jari. Pasalnya, sawah dan kebun jagung mereka gagal panen akibat diterjang banjir.

Dari informasi yang dapat dihimpun saat itu ternyata banjir yang merendam kebun jagung dan padi para petani ini, akibat buka tutup tanggul yang dipasang PT Sri Andal Lestari (SAL).  Sayangnya, hingga kini belum ada upaya ganti rugi yang diberikan perusahaan sawit tersebut.

Kesal lantaran perusahaan tak kunjung memberikan ganti rugi, Kamis (22/2) kemarin gabungan petani yang diwakili dua Kepala Desa yaitu Kepala Desa Lubuk Lancang dan Kepala Desa Banjar Sari mengadukan persoalan itu ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Banyuasin. Mereka berharap DLH dapat memanggil perusahaan tersebut

"Lebih kurang 1.000 hektar sawah dan ladang petani di Desa Lubuk Lancang, sekitar 140 hektar kebanjiran dan gagal panen. Banjir itu akibat tanggul buka tutup yang dipasang PT SAL,” kata Kepala Desa Lubuk Lancang Rusdi Tamrin kepada wartawan. Kamis (21/02).

Dijelaskan dia, tanggul yang dipasang PT SAL itu diperbatasan Desa Tanjung Laut dan Desa Lubuk Lancang yang digunakan petani untuk mencari nafkah. Menurut dia, sebelum ada tanggul petani di desanya tidak pernah mengalami kebanjiran.

"Sejak ada tanggul sawah warga jika musim panas kekeringan, sedangkan musim hujan kebanjiran. Sebab jika musim hujan tanggul ditutup oleh perusahaan sehingga air tidak bisa mengalir dan merendam sawah petani,” jelas dia.

Dikatakannya bahwa , banjirnya sawah dan ladang petani ini sudah terjadi sejak November 2017 lalu. Kata dia, puhaknya sudah menuntut perusahaan untuk mengganti semua kerugian petani, sayangnya perusahaan masih tatap saja cuek dan sepertinya sama sekali tidak ada itikat baik .

"Perusahaan tidak ada iktikad baik. Kami harap perusahaan itu mengganti semua kerugian para petani. Kami dari pemarintah desa tidak bisa berbuat banyak jika masyarakat melakukan aksi demo besar-besaran,” tegas dia.

Ditambahkan Kades Banjar Sari Kecamatan Pulau Rimau Ilyas Nurcholis menyebutkan bahwa petani mengalami kerugian Rp 11 juta per hektar untuk tanaman jagung. Sedangkan untuk tanaman padi Rp 7,5 juta perhektar.

“Dulu sebelum ada PT SAL petani sudah menanam padi tidak pernah gagal panen. Sekarang sejak ada PT SAL buat tanggul petani jadi gagal panen. Kami harapan dibuat saluran air baru jangan sampai masuk ke pertanian dan perkebunan warga,” harap dia.

Dijelaskan dia, yang punya lahan pertanian itu adalah Desa Lubuk Lancang, sementara yang bercocok tanam dilahan itu adalah Desa Banjar Sari Kecamatan Pulau Rimau. Bahkan lahan plasma warga Banjar Sari juga kena dampak dari tanggul itu.

"Lahan plasma warga kami juga kebanjiran, kurang lebih 200 KK. Dalam aturan untuk dibuka tutup tanggul itu memang tidak dibenarkan. Kami harap pemerintah dapat menyelesaikan persoalan ini,” harap dia. (Adam)

Post a Comment